Cara Mencatat Penjualan QRIS yang Cair ke Rekening pada Hari Berbeda
Penjualan QRIS sudah berhasil pada Senin, tetapi dana baru terlihat di rekening pada Selasa. Untuk pemilik kafe, ini sering tampak seperti selisih kas. Padahal tanggal terjadinya penjualan dan tanggal settlement ke bank tidak selalu sama. Cara mencatatnya adalah memisahkan penjualan, piutang settlement, biaya layanan, dan dana yang benar-benar masuk rekening.
Penjualan tidak perlu menunggu saldo bank bertambah
Dalam contoh pembukuan berbasis akrual, ketika pesanan telah diserahkan dan pembayaran QRIS berhasil terkonfirmasi, pendapatan dicatat pada tanggal transaksi. Jika dana belum diterima rekening, debit akun Piutang Settlement QRIS sebagai akun penampung. Kasir harus memeriksa status sukses di aplikasi merchant atau laporan resmi penyedia, bukan hanya berdasarkan tangkapan layar pelanggan.
Transaksi QRIS berhasil dicatat sebelum dana settlement diterima.
Simulasi transaksi dan jurnal dua hari
Contoh: kafe yang terdaftar sebagai usaha kecil menerima pembayaran QRIS sebesar Rp250.000 pada 19 Oktober 2026. Dana baru masuk rekening pada 20 Oktober 2026. Diasumsikan MDR sebesar 0,7% atau Rp1.750 tanpa biaya tambahan. Dengan demikian, dana bersih yang diterima Rp248.250. Contoh ini tidak mencakup HPP maupun pajak.
| Tanggal | Akun | Debit | Kredit |
|---|---|---|---|
| 19 Oktober | Piutang Settlement QRIS | Rp250.000 | — |
| 19 Oktober | Penjualan | — | Rp250.000 |
| 20 Oktober | Bank | Rp248.250 | — |
| 20 Oktober | Beban MDR QRIS | Rp1.750 | — |
| 20 Oktober | Piutang Settlement QRIS | — | Rp250.000 |
Pada 19 Oktober penjualan tetap Rp250.000, walaupun saldo bank belum bergerak. Pada 20 Oktober, akun piutang settlement ditutup: bank bertambah Rp248.250 dan beban MDR Rp1.750. Jangan mencatat penerimaan bank sebagai pendapatan baru. Jika tidak ada MDR, penerimaan bank sebesar nilai bruto menutup piutang tanpa beban MDR.
Tanggal penjualan dan tanggal pencairan dana QRIS dapat berbeda.
Periksa kategori merchant: tarif QRIS berubah sejak Oktober 2026
Efektif 1 Oktober 2026, MDR 0% diperluas untuk transaksi hingga Rp100.000 pada kategori usaha kecil, menengah, dan besar. Merchant usaha mikro tetap mendapat MDR 0% untuk transaksi hingga Rp500.000; untuk transaksi di atas Rp500.000 berlaku 0,3%. Pada kategori usaha kecil, menengah, dan besar, transaksi reguler di atas Rp100.000 dikenai 0,7%. Karena itu, simulasi Rp250.000 dengan MDR 0,7% di artikel ini mengasumsikan merchant usaha kecil, bukan usaha mikro. Pastikan klasifikasi dan biaya aktual dalam laporan penyedia sebelum membukukan.
MDR merupakan biaya merchant dan tidak boleh dibebankan terpisah kepada pelanggan. Sebagian penyedia dapat memiliki rincian biaya penyelesaian atau layanan lain. Jangan otomatis menyamakan semua potongan dengan MDR: pisahkan sesuai bukti yang ada, dan jangan menganggap setiap penyedia memiliki jadwal pencairan yang sama.
Rekonsiliasi: gunakan tiga sumber, bukan hanya saldo rekening
| Sumber data | Periksa | Gunanya |
|---|---|---|
| POS atau laporan penjualan | Tanggal transaksi, nomor referensi, nominal bruto, status | Membuktikan penjualan berhasil |
| Laporan merchant / settlement | Transaksi atau batch, potongan, nilai bersih, tanggal pencairan | Menjelaskan dana dalam proses |
| Mutasi rekening | Tanggal kredit, nominal, keterangan bank | Mengonfirmasi kas benar-benar diterima |
Pada penutupan harian, cocokkan total transaksi QRIS yang sukses dengan laporan merchant, lalu buat daftar transaksi atau batch yang belum cair.
Ketika menerima kredit rekening, cari batch yang tepat dan cocokan jumlah bruto, potongan, dan dana bersih. Satu transfer dapat melunasi banyak transaksi, bahkan berasal dari hari penjualan berbeda.
Cocokkan laporan POS, laporan merchant, dan mutasi rekening.
Jika ada selisih, periksa berurutan
- 1. Pisahkan tanggal transaksi dari tanggal pencairan.
- 2. Telusuri status sukses, pending, batal, pengembalian dana, dan kemungkinan transaksi ganda.
- 3. Periksa kategori merchant serta rincian MDR dan biaya lain pada penyedia.
- 4. Cocokkan nomor transaksi atau batch, bukan sekadar mencari nominal bank yang sama dengan satu struk.
- 5. Simpan bukti POS, laporan merchant, dan mutasi bank untuk eskalasi jika ada transaksi yang belum terjelaskan.
Contoh kartu kontrol settlement
| Tanggal | Penjualan QRIS bruto | Bruto belum cair akhir hari | Dana bank dari contoh |
|---|---|---|---|
| 19 Okt 2026 | Rp250.000 | Rp250.000 | Rp0 |
| 20 Okt 2026 | Tidak ada transaksi baru dalam simulasi | Rp0 | Rp248.250 |
Kartu kontrol memakai nilai bruto transaksi yang belum selesai. Karena ada MDR Rp1.750, bruto Rp250.000 yang cair pada 20 Oktober menghasilkan penerimaan rekening Rp248.250. Selisih Rp1.750 menjadi beban layanan, bukan penjualan yang hilang. Jika ada transaksi baru pada 20 Oktober, catat sebagai tambahan penjualan hari itu, bukan sebagai pengganti settlement lama.
Kesimpulannya, pencatatan QRIS yang rapi tidak memaksa penjualan harian selalu sama dengan mutasi bank harian. Penjualan dicatat saat sah, piutang settlement dilacak sampai pencairan, dan potongan layanan dicatat berdasarkan laporan yang sebenarnya. Dengan begitu, pendapatan, beban, serta saldo rekening bisa direkonsiliasi tanpa menghitung transaksi yang sama dua kali.
Rujukan
Bank Indonesia — QRIS dan skema MDR
BCA — Penyesuaian MDR QRIS efektif 1 Oktober 2026
Bank Mandiri — Pilihan jadwal pencairan Livin’ Merchant
Komentar Pembaca
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi!
Tinggalkan Komentar
Anda harus login untuk dapat berpartisipasi dalam diskusi.
Login Untuk Mengirim Komentar