Ngebar 12 jam itu katanya PASSION? Tapi dompet tetep kering
Bekerja di balik meja bar sering kali terlihat seperti sebuah adegan dari film indie yang estetis. Ada apron kanvas yang gagah, aroma kopi yang bercampur dengan sirup mixed berrydan manisnya gula aren, serta denting es batu yang beradu dengan gelas kaca. Di mata pengunjung, sosok di balik bar adalah seniman. Namun, di balik senyum ramah dan racikan minuman yang sempurna itu, ada realitas yang jarang masuk ke dalam story Instagram: shift 12 jam yang menguras fisik dan mental, yang sering kali dibalut dengan satu kata sakti bernama passion.

Kita hidup di era di mana hustle culture sering kali disalahartikan sebagai bentuk dedikasi mutlak.
Bagi banyak dari kita yang meniti karier di industri food and beverage(F&B), narasi ini terasa sangat familiar. Ketika jadwal split-shift yang memotong hari mulai merampas waktu istirahat, atau ketika tugas closing di larut malam, lengkap dengan mengepel lantai dan mencuci portafilter, langsung disusul dengan rutinitas opening di pagi buta, alasan yang sering dilemparkan oleh pihak manajemen biasanya berkisar pada kalimat "ini adalah tempat untuk belajar" atau "kita bekerja dengan passion".
Tapi mari kita bahas ini secara logis. Apakah passion bisa dipakai untuk membayar uang sewa kosan atau mengisi tangki bensin kendaraan untuk menembus kemacetan setiap hari?

Tentu saja, mencintai apa yang kita kerjakan adalah sebuah hal yang berharga. Meracik resep baru, mengekstraksi espresso yang presisi, menyiapkan garnish irisan lemon kering dengan sempurna, hingga meramu minuman yang kompleks memang memberikan kepuasan batin.
Ada kebanggaan tersendiri saat seorang pelanggan menikmati minuman yang kita buat dari nol.
Namun, mengatasnamakan passion untuk membenarkan jam kerja yang berlebihan tanpa kompensasi yang setimpal adalah sebuah bentuk eksploitasi halus yang sayangnya terlalu sering dinormalisasi.
Berdiri selama setengah hari penuh, melayani rentetan pelanggan dengan berbagai macam karakter, mencatat inventaris stok, hingga memastikan meja bar tetap mengilap bukanlah sekadar hobi akhir pekan.
Itu adalah kerja keras fisik dan intelektual yang layak dihargai secara profesional.

Ironisnya, industri yang menjual gaya hidup santai dan tempat singgah yang nyaman ini sering kali gagal memberikan kelayakan hidup yang sama bagi para pekerjanya.
Kita sering melihat fenomena "Ngebar 12 jam, dompet tetap kering" sebagai sebuah lelucon getir di ruang istirahat karyawan.

Gaji yang acap kali hanya menyentuh batas Upah Minimum Regional (UMR) atau tragisnya, jauh di bawah angka tersebut terasa sangat tidak sebanding dengan beban kerja yang dipikul.
Belum lagi jika ada pemotongan gaji akibat barang pecah, selisih perhitungan kasir, atau bahan baku yang rusak, yang entah mengapa sering dibebankan langsung secara sepihak. Di titik ini, narasi passion mulai berubah wujud menjadi sebuah toxic positivity yang sengaja dipelihara semata-mata untuk menekan biaya operasional.

Kritik terbuka ini tidak bertujuan untuk menyebarkan sentimen negatif terhadap industri F&B atau melunturkan semangat dalam berkarya. Industri ini penuh dengan dinamika yang menarik dan selalu membutuhkan individu-individu yang kreatif.
Namun, sudah saatnya generasi pekerja saat ini mulai menetapkan batasan yang sehat dan rasional. Kita berhak, dan bahkan wajib, bersikap kritis terhadap sistem yang terus-menerus mengagungkan kelelahan ekstrem.
Menuntut kompensasi lembur yang transparan, jadwal kerja mingguan yang manusiawi, dan lingkungan kerja yang saling mendukung bukanlah sebuah bentuk arogansi.
Itu adalah standar dasar operasional dan profesionalisme yang tidak bisa ditawar lagi.

Bagi para pengelola dan pemilik usaha, realitas ini seharusnya menjadi sebuah ruang refleksi. Sebuah bisnis yang sehat secara jangka panjang tidak seharusnya dibangun di atas tulang punggung karyawan yang burnout dan tidak dibayar dengan pantas.
Kualitas produk yang konsisten, entah itu segelas kopi susu aren yang sederhana namun memikat atau ramuan khusus yang rumit, selalu berawal dari tangan-tangan barista dan bartender yang kesejahteraannya terjamin.
Karyawan yang mendapatkan istirahat yang cukup dan dihargai secara finansial secara otomatis akan memberikan pelayanan yang jauh lebih otentik, teliti, dan tulus.
Berbeda halnya dengan mereka yang tersenyum hanya karena paksaan prosedur operasional, sementara di dalam kepalanya terus berhitung bagaimana caranya bertahan hidup hingga akhir bulan.
Pada akhirnya, passion adalah bahan bakar awal yang membuat kita berani memulai dan bertahan di masa-masa sulit, tetapi ia sama sekali bukanlah mata uang yang sah untuk ditukarkan dengan kebutuhan hidup harian.
Kita tidak bisa terus hidup dari validasi semu berupa label "pekerja keras" atau "sangat berdedikasi" jika pada kenyataannya sistem yang ada memeras tenaga secara perlahan.
Ngebar 12 jam, bereksperimen menciptakan menu baru, dan memberikan pengalaman rasa terbaik bagi pelanggan adalah hal-hal yang luar biasa, selama semua itu berjalan beriringan dengan apresiasi finansial yang masuk akal dan proporsional.
Mari tetap menjaga passion menyala di balik meja bar, tetapi pastikan dompet kita tidak ikut mengering dalam prosesnya, karena kita bekerja untuk menghidupi kehidupan, bukan sekadar bertahan di tempat kerja.
Komentar Pembaca
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi!
Tinggalkan Komentar
Anda harus login untuk dapat berpartisipasi dalam diskusi.
Login Untuk Mengirim Komentar